Sunday, April 8, 2012

Teman?

Kadang dada yang mulai sesak ini terlalu sulit untuk dijabarkan
Aku tidak tahu
Sadar atau tidak
Ingat atau lupa
Aku mulai mengenal kata teman
Kata yang sama sulitnya untuk dijabarkan
Kata yang sulit dipahami alasannya
Seperti pertanyaan yang selalu menghujam relungku yang semu
Kenapa gigiku selalu bergemertak kasar
Disusul rusukku yang menggigil tak karuan
Aku tidak tahu
Atau malah sebenarnya aku sungguh-sungguh tahu
Mataku yang memerah dan kudukku yang terangkat
Simpul bibirku yang mengembang
Juga jemariku yang terlipat..
Sebenarnya aku hanya takut kehilangan
Takut tidak bisa lagi merengkuh sesuatu yang selama ini gampang sekali
Takut tidak bisa tergelak bersama
Takut tidak bisa menemukan hal yang sama
Apakahkah rasa ini juga sedang menyelinap di sanubari kalian?
Teman?

Yogyakarta, 8 April 2012

Saturday, March 31, 2012

Samara Part 4 : Tanpa Judul

Menjelang penghujung Maret akhir-akhir ini begitu menggelitik. Sam baru saja menjejalkan map transparan yang nyaris lusuh ke dalam ransel yang penuh sesak. Sam mendesah pelan sambil memicing pada jam dinding di sudut kelas. Masih pukul 10.00 dan sekolah sudah usai. Lima menit yang lalu ruang kelas bagai dilempar segunung molotov saking kerasnya penghuni kelas berteriak kegirangan menyambut keputusan sekolah untuk memulangkan murid lebih awal. Well, ada peresmian gedung baru dan bagi murid kelas 12 seperti Sam, pulang sepagi ini adalah mukjizat tak terkira mengingat menjelang pertempuran saat Ujian Nasioanl, meletakkan pantat pun tak sanggup saking sibuknya.

" Sam, siang nanti ada bagi-bagi coklat gratis di Taman Pintar, mau ikut tidak?" celetuk Laila sambil menjotos bahu Sam dan Sam nyaris terjengkang karenanya. Padahal Sam sedang menimbang-nimbang apa yang akan dilakukannya nanti. Tadinya, Sam mau membalasnya dengan menyembur Laila lewat mulutnya yang menganga lebar, tapi begitu mendengar kata coklat, air muka Sam menghangat dan matanya menjeblak lebar seperti dipeluk Karim Benzema.

"Seriusan?" tanya Sam meyakinkan. Indra pengecapnya mulai terangsang dengan sedikit mengeluarkan liur yang muncul begitu saja di dalam mulut yang siap mengulum coklat banyak-banyak. Laila mengangguk semangat. Namun, muka Sam langsung berubah dan menunjukkan ekspresi astaga-aku-tidak-bisa-ikut! Sam lupa kalau hari ini Musa minta diajarimengerjakan PR Bahasa Inggris.

"Kenapa,Sam? Tidak bisa?" desak Laila. Sam cemberut. Jelas dia tidak bisa. Nah, say goodbye pada coklat gratis kalau begitu! Sam tidak mungkin ingkar janji karena Musa bakal ngamuk kalau Sam melakukannya.

Sam sudah ikhlas tidak kebagian coklat gratis. Untuk itu Sam langsung ngeloyor pergi dan bergegas pulang. Sam baru saja mengencangkan helm-nya ketika manik kembarnya menangkap sosok jangkung berjalan dari arah selatan, menggamit buku coklat mengkilat.

"Virgo! Novel baru?"tanya Sam begitu Virgo hanya berjarak 3 meter darinya. Virgo mengangkat bukunya dan menunjuk dengan kelingkingnya yang panjang.

"Iya, yang kamu bawa. Boleh pinjam?" sembur Sam tanpa tedeng aling-aling. Sam tahu betul Virgo punya banyak koleksi buku bagus.

"Oke, aku sudah selesai baca.Pinjam aja. Madre. Dewi Lestari. Dijamin ketagihan, Sam!"

Woaaa... Virgo benar seribu persen! Usai membantu Musa mengerjakan PR Sam rebahan di karpet dengan bantal kaki favorit Sam, ditemani Madre yang super kereeen! Membaca Madre seperti menjelajahi toko roti pada zaman kolonial dan bau ragi menguar di mana-mana, seolah seorang artisan (tukang buat roti manual yang hebat banget) tengah mengulen adonan di samping Sam! Gila! Dee gila dan Sam cinta berat!

Entahlah, Sam tidak tahu kapan tepatnya Sam cinta baca apa pun yang bisa dibacanya, terutama novel. Dan Madre adalah kejutan luarbiasa di penghujung Maret yang panas. Ada sesuatu yang menggairahkan dari Madre, lebih dari sekadar hiruk pikuk juga kericuhan naiknya BBM! Madre lebih dari itu dan membacanya di siang bolong begini sungguh melegakan.

Monday, March 26, 2012

Samara part 3:Galau Itu Begini!

Ranting belimbing berkeresak pelan, bersua dengan hembusan angin yang hilir mudik. Hawa panas segera menyergap ketiga jarum jam menunjuk pukul satu siang. Tidak ada yang menarik. Sepi dan kosong. Sam bahkan tidak tahu harus berbuat apa. Yang dilakukannya sejak tadi hanya menyodok-nyodok perut boneka bebeknya dan mengurai pita yang terkait di lehernya, kemudian memasangnya kembali. Begitu seterusnya.

Sam tidak suka melakukan sesuatu dengan alasan ingin sama dengan yang lainnya. Sam tidak suka ikut-ikutan. Dan perasaan galau yang dirasakannya sekarang bukan karena mengikuti trend sekarang. Sam mendesah pelan kemudian menenggelamkan wajahnya ke bantal kaki besar. Sepersekian detik berikutnya Sam sudah guling-guling lagi di tempat tidurnya, menatap langit-langit dengan getir.

"Jangan lakukan itu lagi, Sam! Kau tahu kau tidak suka, kenapa masih juga dilakukan?"

Sam masih ingat benar pernyataan Aviqah tadi pagi dan hal itu cukup untuk membuat otaknya berlipat lebih dari normal. Sam terlanjur masuk pada lubang yang salah dan Aviqah adalah orang pertama yang menyadarinya. Apa yang harus Sam lakukan sekarang? Dia hanya membantu... Yah, membantu orang yang salah. Membantu seseorang menyelesaikan masalahnya meski dulu orang itu tidak menganggap Sam sama sekali. Sam juga tidak tahu kenapa Sam mau membantunya! Kenapa coba?

Wuuuussh..

Tiba-tiba saja Sam dikejutkan oleh angin yang tidak tahu dari mana asalnya dan memaksanya untuk bangkit. Bulu kuduknya merinding dan suasana ini benar-benar merusak kesenangan Sam yang sedang asyik melamun. Tanpa dikomando Sam bergegas keluar kamar dan menghampiri Alnilak yang asyik nonton TV.

"Kau kenapa, Sam?"tanya Alnilak begitu Sam menjulurkan kakinya ke sofa. Sam menoleh, mengamati Alnilak yang terus-terusan mengganti saluran TV.
"Al,"celetuk Sam tiba-tiba. Alnilak tak menyahutnya, jadi Sam melanjutkan kalimatnya. "Menurutmu bagaimana kalau kita membantu musuh?"
Alnilak tampak terperanjat, tapi hanya sebentar karena detik berikutnya Alnilak langsung nyengir lebar.
"Tergantung sih, Sam. Membantunya gimana?"
"Ya apa aja deh."
"Nah, itu namanya goblok!"
"Hah? Sopan dikit dong sama orangtua! Tega bener..."
"Haha, ya jelas lah, Sam. Membantu memang pekerjaan yang tidak salah, tapi pilih-pilih juga mana yang baik dan enggak. Masa gitu aja nggak ngerti?"

Mana yang baik? Sam terhenyak. Mungkin Alnilak benar dan mungkin ini maksud Aviqah. Astaga! Kenapa malah semakin bingung? Sam jadi agak menyesal bertanya pada Alnilak. Sam malah jadi tambah tidak enak sekarang. Huooo.. Jadi, beginikah rasanya galau?